ARTICLES



2020-10-17

DIR Floortime: Sebuah Pendekatan yang Efektif Merekatkan Hubungan Orangtua dan Anak

Floortime adalah dengan menyesuaikan pola interaksi orangtua dengan usia anak; karena tahap perkembangan setiap anak sangat berbeda.



Author : JCDC

Oprah Winfrey pernah berkata bahwa sebuah komunikasi yang baik selalu dimulai dari koneksi; namun, tak dapat dipungkiri bahwa membentuk komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak memang bisa jadi ‘susah-susah gampang’.

Kabar baiknya, melalui wawancara eksklusif penulis dengan Feka Angge Pramita, M.Psi., Psikolog – yang merupakan Psikolog Klinis Anak dan Remaja JCDC, serta The DIR Floortime Expert Training Leader Certified International, kita akan mengenal sebuah pendekatan yang terbukti efektif untuk membangun koneksi antara orangtua dan anak–yaitu melalui DIR Floortime.

DIR Floortime (D.I.R) merupakan singkatan dari Developmental, Individual-differences, dan Relationship-based; yang berfungsi untuk memahami kekuatan serta membantu kelemahan anak – dan pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Stanley Greenspan pada tahun 1979 melalui bukunya yang berjudul Intelligence and Adaptation.

“Secara filosofi, Floortime berarti meluruskan persepsi antara orangtua dan anak melalui interaksi – yang pada awalnya akan dimulai dari kontak mata, karena kontak mata merupakan awal untuk masuk ke dalam komunikasi yang efektif,” ungkap Feka.

Floortime dapat diterapkan dalam berbagai macam aktivitas; seperti bermain, makan, berbicara, dan lain sebagainya. Namun menurut Feka, salah satu syarat terpenting dalam menerapkan Floortime adalah dengan menyesuaikan pola interaksi orangtua dengan usia anak; karena tahap perkembangan setiap anak sangat berbeda.

Developmental

Pada developmental, anak akan melewati proses self-regulation atau regulasi diri, yang merupakan proses pengembangan kemampuan anak dalam mengenali kondisi internal-nya maupun lingkungan sekitar; seperti mengenali rasa lapar dan mengantuk.

Menurut Feka, kemampuan self-regulation merupakan kemampuan dasar dan bersifat otomatis, yang akan berfungsi untuk menyesuaikan perilaku anak dengan lawan bicaranya.

Setelah melewati tahap developmental, orangtua akan diajak untuk melakukan evaluasi pada anak melalui tahap individual-differences, yaitu sebuah proses untuk mengenali sifat, karakter, serta kesiapan mental dan fisik sang anak.

Individual-Differences

Melalui tahap individual-differences, orangtua juga akan belajar untuk menyesuaikan respon terhadap setiap perilaku anak.

Orangtua diharapkan untuk terlibat secara langsung dalam proses ini, sebab menurut Feka, saat ini masih banyak orangtua yang cenderung menyamaratakan kondisi setiap anak; malah, justru berharap anak yang akan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

“Seringkali anak hanya 'diperintah-perintah' oleh orangtua; kalau dia tidak diperintah, ya, dia akan diam saja. Salah satu tujuan dari tahap individual-differences adalah bagaimana nantinya orangtua akan tetap memberikan arahan kepada anak, dengan tetap memberikan anak kesempatan untuk mandiri,” tegas Feka.

Dengan memberikan anak kesempatan untuk mandiri, anak akan belajar untuk mengenali setiap emosinya; sehingga kedepannya, anak akan memiliki self-awareness yang baik dan memiliki inisiatif untuk berkomunikasi.

Relationship

Dalam relationship, orangtua selanjutnya akan berinteraksi sesuai dengan profil anak yang telah dievaluasi dalam tahap individual-differences.

Jika sebelumnya orangtua selalu memulai interaksi terlebih dahulu dengan memberikan arahan–yang pada akhirnya akan membuat anak tidak tertarik untuk bereksplorasi, maka pada proses relationship, orangtua justru akan belajar untuk mengikuti ide anak.

Menurut Feka, jika orangtua kerap mendominasi anak dalam setiap perilaku dan aktivitasnya, hal ini berpotensi menciptakan penimbunan emosi pada anak – yang nantinya akan menumbuhkan sifat pemberontak saat anak beranjak remaja.

Dominasi dari orangtua juga dapat menyebabkan anak takut untuk melakukan kesalahan–salah satunya dapat dilihat ketika anak enggan bertanya atau mengemukakan pendapatnya.

“Level awal yang harus dipahami dan dilakukan orangtua adalah following the child’s lead; artinya, ide apapun yang dikemukakan anak, harus juga diikuti orangtua. Orangtua juga tidak diperkenankan untuk mengarahkan anak terlebih dulu, agar terbangun trust antara orangtua dan anak. Tapi, bukan berarti tidak boleh diarahkan, ya; karena pada level selanjutnya, anak akan belajar bernegosiasi dengan orangtua mulai dari pilihan sederhana: ‘mau pakai baju apa?' atau 'mau makan apa?’” terang Feka.

Bukan saja bermanfaat untuk anak, DIR Floortime ternyata juga sangat bermanfaat untuk orangtua; karena pada setiap proses dan tahapannya, orangtua akan belajar untuk mengikuti ide anak – sehingga tak hanya orangtua dapat mengenali anak dengan lebih baik, namun anak juga pada akhirnya akan menjadi lebih dekat dengan orangtua. Selain itu, dengan mengikuti ide anak maka itulah pintu gerbang orang tua untuk bisa masuk ke dunia anak

“DIR Floortime sebenarnya bukan untuk anak saja, tetapi juga untuk orangtua. Dengan melakukan DIR Floortime bersama anak, otomatis orangtua akan belajar; karena pada tahap awal, orangtua akan didorong untuk mengikuti anaknya dan tidak boleh memberikan direction apapun. Pada Enrichment Class di JCDC, orangtua juga akan diajak untuk melakukan refleksi diri setelah belajar mengikuti ide anak,” ujar Feka.

Pada akhir wawancara, Feka juga berpesan bahwa parenting merupakan pelajaran seumur hidup dan bersifat relasi; sehingga bukan saja orangtua yang memberikan arahan kepada anak, namun orangtua juga harus belajar untuk mengetahui dan mengikuti kebutuhan anak.

“Boleh saja dikasih tantangan apabila anak mampu, tapi jangan memberi tantangan yang terlampau berat dan tidak sesuai kemampuan anak. Sebagai orangtua, kita harus menghormati keputusan anak apabila tidak mau melakukan apa yang kita harapkan dan bertanya mengapa anak tak mau melakukannya. Pada kesempatan selanjutnya, orangtua juga harus kembali membujuk serta memberikan motivasi agar anak mau mencoba melakukan hal tersebut,” tegas Feka.

Demi memaksimalkan perkembangan sang buah hati–terutama selama masa pandemi COVID-19, Jakarta Child Development Center (JCDC) mempersembahkan program Enrichment Class yang bertujuan untuk membantu orangtua dalam mengoptimalkan pertumbuhan serta perkembangan anak, baik melalui kelas offline maupun online.

Untuk mengoptimalkan perkembangan anak, dalam Enrichment Class, orangtua dan anak juga akan melakukan aktivitas bersama, serta mendapatkan perlengkapan dan mainan stimulasi yang dibuat oleh ide langsung tim pengajar yang terdiri dari psikolog klinis anak dan remaja, fisioterapis anak, terapis wicara, dan okupasi terapis. Anak juga akan diperiksa perkembangannya oleh tim pengajar dan dokter spesialis anak secara rutin.

Enrichment Class juga akan membantu mengarahkan anak dalam belajar, mengeksplorasi diri, serta mengembangkan kemampuan sosial, ketahanan fisik, dan kecerdasan intelektual dengan cara yang menyenangkan–yang juga tidak akan ditemui di kelas-kelas manapun.

Untuk informasi lebih lanjut seputar program Enrichment Class, dapat diakses melalui tautan berikut klik disini

Penulis : Andreas Kevin Hadinata, S.I.Kom.

Peninjau : Nadia Emanuella Gideon, M.Psi., Psikolog.

Referensi:

Cullinane, MD, Diane (2016). Behavioral Challenges in Children with Autism and Other Special Needs. NYC, New York: W.W.Norton and Company. ISBN 978-0393709254.



CONTACT US


Jakarta Child Development Center

Jl. Raya Klp. Dua No.5, RW.8, Klp. Dua, Kec. Kb. Jeruk, Jakarta Barat, Jakarta Barat 11550

jcdcpartner@gmail.com

(+6221) 22059180, 087808778770

MYJCDC

MY_JCDC

MYJCDC


Located at Jln Raya Kelapa Dua, our clinic have a spacious space for kids to play and learn, rooms for treatment for consulting and therapy. Strategic place for child development center.