ARTICLES



2020-10-30

Remaja Bukan Anak-Anak dan Juga Belum Dewasa, Jadi Harus Bagaimana

Ketika anak beranjak remaja, seringkali orangtua memiliki ekspektasi yang tidak sesuai dengan kesiapan mental anak.



Author : JCDC

Masa transisi menjadi dewasa merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh anak dan juga orangtua; anak ingin cepat dewasa agar dapat bebas dalam melakukan eksplorasi, dan orangtua berharap anak cepat beranjak dewasa agar dapat menjadi pribadi yang mandiri.

Namun sebelum beranjak dewasa, anak harus melewati fase remaja; dimana pada fase ini hubungan orangtua dan anak sering dibuat kalang kabut karena terjadi ketidaksesuaian antara harapan orangtua dan realita yang terjadi pada anak.

Ketika anak beranjak remaja, seringkali orangtua memiliki ekspektasi yang tidak sesuai dengan kesiapan mental anak. Fisik anak yang sudah berubah ketika remaja, membuat orangtua juga mengharapkan perubahan sikap dari anak. Padahal, hal itu bukan berarti anak sudah beranjak dewasa.

Lagu Britney Spears berjudul “I’m not a girl, not yet a woman” sangat jelas menggambarkan kondisi remaja yang sesungguhnya. Pasalnya, remaja memang sudah bukan anak-anak, tetapi remaja juga bukanlah orang dewasa.

Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Imelda Ika Dian Oriza, M.Psi., Psikolog pada sesi Instagram Live Q&A bersama JCDC, orangtua sering menganggap bahwa remaja sudah dapat mengerti, mengatur, dan mengorganisasi dirinya; padahal secara kematangan psikologis, remaja belum dewasa – sehingga belum dapat dituntut untuk bertanggung jawab layaknya orang dewasa.

Remaja juga masih perlu didampingi dan dituntun oleh orangtua – terutama karena pada masa remaja, otak remaja masih dalam tahap perkembangan.

Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa mood remaja yang sewaktu-waktu dapat berubah sangatlah berhubungan dengan perkembangan otak remaja. Oleh sebab itu, peran orangtua sangat dibutuhkan untuk menuntun anak melewati proses perkembangan ini.

“Setelah mempelajari Neuroscience perkembangan otak remaja, saya jadi tahu bahwa bukan salah anak remaja kalau mereka jutek, atau kalau diajak sekolah rasanya males banget; karena rupanya, hal ini sangat berkaitan dengan perkembangan otak remaja. Bahkan, saya pernah bertemu dengan klien yang bilang bahwa dia juga bingung kenapa suatu hari emosinya biasa-biasa saja, tapi besoknya, bisa menangis seharian karena jerawat. Walau terkadang orangtua berpikir remaja hanya butuh teman karena sudah besar, ternyata mereka juga sangat butuh orangtuanya; dan perkataan menusuk dari orangtuanya bisa membuat mereka sakit hati,” jelas Anastasia pada sesi Instagram Live Q&A bersama JCDC.

Pada era digital ini, cara belajar remaja juga sudah berubah. Apabila dulu remaja selalu belajar dengan membaca buku, saat ini belajar dengan menggunakan gadget sambil menonton atau bermain game merupakan hal yang lumrah dilakukan.

Cara belajar yang tidak biasa ini juga kerap membuat bingung dan membuat orangtua mengambil kesimpulan terlalu cepat, yang pada akhirnya akan merenggangkan hubungan antar anak dan orangtua.

“Apabila orangtua terlalu cepat mengambil kesimpulan – contohnya saat orangtua sering mengira anak sedang bermain gadget saat belajar, padahal seperti itulah cara mereka belajar dan bekerja – sering kali akan berujung salah paham dan membuat orangtua sering memberikan judgment, yang pada akhirnya membuat anak menjadi sensitif. Jadi, orangtua sebaiknya bertanya dulu, baru membuat kesimpulan,” ungkap Dr. Imelda.

Agar dapat mengatasi kesalahpahaman yang kerap terjadi, hubungan antara anak dan orangtua harus bersifat mutual; yaitu ketika orangtua tahu harus bersikap seperti apa kepada anak, serta anak juga tahu cara menyampaikan perasaannya kepada orangtua.

Bagaimana Dengan Orangtua?

Pola asuh dan relasi individu dengan anaknya seringkali merupakan cerminan dari hubungan orang tersebut dengan orangtuanya sendiri. Apabila pola asuh yang diterima kurang baik, maka hal itu akan tercermin kembali ketika seseorang melakukan relasi.

“Sering kali yang dibawa (orang dewasa muda) adalah masalah mereka dengan orangtua saat kecil, yang pada akhirnya mempengaruhi cara mereka berelasi dengan teman maupun dengan partner. Ketika kita berelasi dan berkomunikasi baik dengan orang tua, hal itu dapat menjadi modal dan model yang baik untuk kita dalam berkomunikasi dengan orang lain,” jelas Dr. Imelda.

Ditulis oleh : Andreas Kevin Hadinata, S.I.Kom.

Ditinjau oleh : Nadia Emanuella Gideon, M.Psi., Psikolog

Melalui Seminar Parenting Online JCDC dengan tema “Understanding Teens” bersama Dr. Imelda Ika Dian Oriza, M.Psi., Psikolog dan Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog, orangtua akan diajak untuk mengenal anak lebih jauh dan anak akan diajak untuk mengenal dirinya sendiri, sehingga dapat tercipta hubungan mutual yang sehat.

Parents, mari jangan lewatkan kesempatan yang terbatas ini dan segera pesan tempat Anda melalui klik disini





CONTACT US


Jakarta Child Development Center

Jl. Raya Klp. Dua No.5, RW.8, Klp. Dua, Kec. Kb. Jeruk, Jakarta Barat, Jakarta Barat 11550

jcdcpartner@gmail.com

(+6221) 536 745 14, 087 808 778 770


Located at Jln Raya Kelapa Dua, our clinic have a spacious space for kids to play and learn, rooms for treatment for consulting and therapy. Strategic place for child development center.